Keunggulan Pariwisata Kampung Merabu Jadi Penopang BUMK

Vinkmag ad

BERAU – Lensaku, Kabupaten Berau yang terkenal memiliki keindahan bawah lautnya hingga sampai mancanegara ini juga memiliki surga tengah hutan yang tidak kalah saing dengan surga bawah lautnya, seperti di Kampung Merabu yang berada di Kecamatan Kelay.

Franly Aprilano Oley sebagai Sekertaris Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) mengatakan, Pengelolaan wisata di Kampung Merabu ini dilakukan sepenuhnya oleh BUMK. Beliau mengaku, Sektor pariwisata yang sangat berpotensi bagi BUMK Kampung Merabu. Karena pengelola wisata hanya mengambil fee sebesar 10 persen. Sisanya masuk kedalam kas BUMK.

“Jadi, semisal jasa tour guide dipatok sebesar Rp 150 ribu, yang menjadi guide tersebut mengambil 10 persen diluar gaji yang nantinya diterima setiap bulannya,” Jelasnya pada Lensaku.id

Beliau juga mengaku, pengelolaan keuntungan tersebut kembali ke warga kampung. Jika profit pengelolaan wisata dihitung secara nominal memang tidak banyak, namun jika dilihat dari manfaat BUMK bagi warga itu sangat maksimal.

“Pendapatan Asli Kampung memang hanya berkisar Rp 10 sampai 20 juta pertahunnya. Itu sudah bersih dipotong gaji dan operasional lainnya,” ucapnya.

Lanjut, beliau juga mengatakan ada tiga lokasi yang dapat diunggulkan untuk pariwisata Kampung Merabu yang pertama Danau Niadeng, kedua Puncak Ketepu, dan yang ketiga Goa Bloyot yang memiliki lukisan tangan zaman prasejarah.

Untuk wisata yang ada di Merabu, pihak kampung berupaya untuk menunjukkan bahwa inilah sesungguhnya alam Kampung Merabu yang tidak ada campur tangan manusia sedikitpun. Diakuinya, pengurus BUMK sengaja tidak melakukan pembangunan fasilitas untuk memudahkan wisatawan yang berpotensi merusak keasrian alam itu sendiri.

“Memang ini adalah obyek wisata peminat khusus, jadi sebisa mungkin kami menjaga keaslian alam,” ujar Franly.

Baca juga:  Operasi Zebra 2022 Bakal Digelar Oktober, Ada 7 Sasaran Prioritas

Untuk tingkat pengunjung, diakuinya sejak pandemi, pariwisata yang paling berdampak selain kesehatan, sebelum pandemi menurutnya bisa menerima paling sedikit 800 wisatawan setiap tahunnya. Namun, saat pandemi turun jauh dari kondisi normal.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung (DPMK) Ilyas Natsir menuturkan, pihaknya berusaha untuk meningkatkan kampung melalui BUMK. Ia mengatakan, Kampung Merabu memiliki potensi alam yang sudah go internasional.

“Harapan saya Pendapatan Asli Kampung Merabu yang saat ini berada pada angka sekitar 10 hingga 30 juta, kedepannya bisa meningkat hingga 50 bahkan 100 juta,” jelas Ilyas.

Menurut Ilyas, BUMK sebagai lembaga resmi harus mengumpulkan dana abadi kampung yang nantinya bisa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan kampung apabila dana desa maupun alokasi dana kampung (ADK) sudah tidak ada lagi.

“BUMK di kampung Merabu ini sudah berjalan dengan baik, tapi sebaik apapun itu harus ada pengembangan yang dilakukan,” tutupnya. (Dez)

Read Previous

Meski Diguyur Hujan, Pembukaan HUT Kelurahan Gunung Tabur Ke-18 Tetap Berjalan

Read Next

Peduli Kepada Sesama, Dandim 0914/TNT Ajak Masyarakat Ikuti Donor Darah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *