TERISOLASI ; Jenazah Bayi Harus Ditandu Kurang Lebih 8 Jam Untuk Sampai Ke Rumah Duka

NUNUKAN, LENSAKU.ID – Siapa yang tidak merasa kehilangan dan sedih anak kesayangannya telah pergi selama – lamanya, begitu juga yang dialami oleh salah satu keluarga Hermanto dan Yohanah yang tinggal di daerah pedalaman.

Bagaimana tidak, setelah anak kesayangannya mendapatkan perawatan di RSUD Tarakan selama beberapa hari, bayi yang dikandung selama 9 bulan tidak dapat tertolong lagi nyawanya dan dinyatakan meninggal dunia oleh pihak rumah sakit.

Menurut keterangan keluarga, sebelumnya bayi sempat dirawat di Puskesmas Long Bawan, Kecamatahn Krayan Kabupaten Nunukan, namun minimnya fasilitas dan bayi sempat mengalami kejang – kejang, akhirnya bayi dirujuk ke RSUD Tarakan. Setelah menjalani perawatan selama 3 hari di RSUD Tarakan, bayi tidak dapat terolong dan meninggal dunia.

Dengan kejadian ini, kedua orang tuanya akhirnya membawa anaknya ke kampung halaman untuk dimakamkan, diketahui mereka tinggal jauh dari hiruk pikuk perkotaan, Desa Wa Yagung yang berada di Krayan Kabupaten Nunukan sangat minim akses baik darat maupun yang lainnya.

Menurut keterangan dari keluarga, Hendra mengatakan, untuk sampai dirumah duka, Hermanto dan Yohana dari Kota Tarakan menaiki pesawat MAF menuju Krayan, setelah tiba mereka lanjut menuju ke Long Umung menggunakan mobil, namun karena keadaan masih banjir mereka harus menginap satu malam di ibu kota kecamatan (Long Umung) menunggu air surut, ungkapnya kepada lensaku.id

Lanjut Heru, setelah surut baru di tanggal 20 September kemarin, orang tua bayi berlanjut ke desa Wa Yagung dengan berjalan kaki dan sambil menggendong jenazah bayi.

“Dengan menggunakan tandu dan dibantu masyarakat kampung, kurang lebih 6-8 jam perjalanan kaki untuk yang sudah biasa, untuk yang baru pertama bisa menempuh perjalanan sampai15 jam lebih berjalan kaki. Kebiasaan warga di Wa’ Yagung juga demikian, pasien yang sakit atau meninggal dibawa menggunakan tandu”, bebernya.

Dengan akses yang masih sulit, warga Desa Wa Yagung berharap pemerintah hadir dan bisa memberikan rasa keadilan bagi masyarakat yang tinggal di pedalaman yang juga berbatsan dengan negara tenagga.

“Fasilitas kesehatan dengan dokter umum paling tidak bisa di sediakan, karena disana masih puskesmas pembantu dengan fasilitas seadanya, dan kebutuhan obat kadang tidak tersedia. Akses jalan ini sudah sering disampaikan ke pemerintah, namun hingga saat ini tidak pernah diperhatikan, mungkin belum sampai di pemerintah pusat”, keluhnya. (rdk)

 

Read Previous

Kolaborasi Pemerintah Daerah Berau dengan BMKG Dalam Menyiapkan Sarana dan Prasarana Mitigasi Bencana.

Read Next

Fokus Menang : Relawan Prabowo Mania 08 Kaltara Gencar Lakukan Konsolidasi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular